Frankfurt
Book Fair (disingkat FBF) adalah pameran buku terbesar dan tertua di
dunia. Sebuah tradisi yang telah berlangsung selama lebih dari 500 tahun. Lebih
dari 7000 peserta dari 114 negara ikut ambil bagian dalam FBF dan dilaporkan
oleh lebih dari 10.000 jurnalis.
Selama lima hari, lebih dari 7000 peserta
ambil bagian untuk mendapatkan informasi tentang pasar penerbitan, membentuk
jaringan kerja, dan berbisnis. Pameran ini menjaring hampir 500 ribu pengunjung
dan menghadirkan lebih dari 400 ribu buku dengan sekitar 60% adalah pengunjung
yang melakukan transaksi bisnis.
Penerbit, agen, penjual buku, pustakawan,
akademisi, ilustrator, penyedia layanan, produser film, penerjemah, pencetak,
profesional dan asosiasi perdagangan, lembaga, seniman, penulis, kolektor
benda kuno, penyedia software dan multimedia, semua ambil bagian dalam program
dan iklim bisnis di FBF.
Frankfurt
Book Fair bukan hanya merupakan arena transaksi buku terbesar dan
paling bergengsi di dunia namun juga memiliki nilai strategis sebagai diplomasi
budaya untuk pemantapan citra satu Negara.
Program Guest of Honour (GoH) juga dikenal
sebagai Country of Honour di
mana industri penerbitan suatu negara diangkat dengan fokus utama negara
tersebut. Program khusus seperti ceramah, eksebisi seni, panel forum, produksi
teater, program radio dan TV dirancang untuk keperluan sebagai GoH. Area
pameran khusus juga dibangun bagi negara yang menjadi GoH.
Pada Juni 2013 Pemerintah Indonesia
diwakili oleh Sekretaris Jenderal, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan
Presiden Ausstellung und Messe (AuM) menandatanganiMemorandum of Understanding (MoU)
mengenai kesediaan Indonesia menjadi Guest of Honour 2015.
Sebagai Guest of Honour 2015, Indonesia memilliki
kesempatan strategis untuk menunjukkan kepada dunia kebangkitan literasi bangsa
melalui kekayaan budaya dalam segala implementasinya. Tidak hanya sastra dan
budaya negara GoH menjadi pusat perhatian di pameran perdagangan terbesar di
dunia untuk buku dan media, demikian juga dengan industri bukunya.
Mengenai hal ini, Guest of Honour membuat sebuah program
dukungan terjemahan. Dari sudut pandang industri buku, program ini membantu
meningkatkan perdagangan dalam hak dan lisensi dan mengembangkan kontak
internasional mereka, bahkan setelah tahun sebagaiGuest of Honour telah berakhir. Industri
ini juga mendapatkan keseluruhan manfaat dari perhatian ekstra yang diterimanya
karena promosi dari penulis dan kehadiran penerbit di pameran buku terbesar di
dunia.
Untuk pembaca dan masyarakat umum, kehadiran
Indonesia sebagai Guest
of Honourmemungkinkan mereka untuk mendapatkan pengalaman budaya dan
literatur sekaligus memunculkan rasa ingin tahu, sejarah bangsa,
mendorong pertukaran budaya dan dialog serta hal-hal terkini dari Indonesia.
FBF dianggap sebagai pameran buku paling
penting dalam hal transaksi dan perdagangan internasional terkait rights dan lisensi. Bagi
Indonesia, event ini
merupakan kesempatan besar untuk membuat industri dalam negeri, tak hanya
industri penerbitan dan percetakan, tapi industri kreatif lainnya (semisal
kerajinan dan barang seni, kuliner, multimedia), juga industri tradisional
berbasis budaya (jamu, kain, kosmetik tradisional, dsbnya) lebih go international.
Persiapan FBF adalah pekerjaan
"seabad-dua abad". FBF bukanlah pekerjaan magic yang mengandalkan
mantra dan sim salabim semua tercipta sempurna dengan indahnya. FBF adalah
pekerjaan bangsa yang membutuhkan keterlibatan penuh banyak pihak baik swasta
dan pemerintah. Biaya, tenaga, pemikiran, saran, usul, pengawasan, bimbingan,
dan ide-ide besar lainnya yang didukung oleh sarana dan prasarana yang lebih
dari cukup untuk mengantarkan Indonesia menjadi Tamu Kehormatan pertama dari
Asia Tenggara di ajang bergengsi tersebut.
Waktu kita tidak banyak. Sungguh. Sanggupkah
kita menyaingi kesuksesan Brazil, Iceland, New Zealand sebagai GoH? mampukah
kita menyaingi mereka yang sudah "berabad-abad" mempersiapkannnya?
bisakah kita dengan persiapan "sehari-dua hari" menggetarkan publik
internasional? mungkin kita memang memerlukan mantra itu. Semoga ini tidak
berakhir menjadi ratapan.