Tuesday, 17 January 2017

Edisi Frankfurt Book Fair


Frankfurt Book Fair (disingkat FBF) adalah pameran buku terbesar dan tertua di dunia. Sebuah tradisi yang telah berlangsung selama lebih dari 500 tahun. Lebih dari 7000 peserta dari 114 negara ikut ambil  bagian dalam FBF dan dilaporkan oleh lebih dari 10.000 jurnalis.

Selama lima hari, lebih dari 7000 peserta ambil bagian untuk mendapatkan informasi tentang pasar penerbitan, membentuk jaringan kerja, dan berbisnis. Pameran ini menjaring hampir 500 ribu pengunjung dan menghadirkan lebih dari 400 ribu buku dengan sekitar 60% adalah pengunjung yang melakukan transaksi bisnis.

Penerbit, agen, penjual buku, pustakawan, akademisi, ilustrator, penyedia layanan, produser film, penerjemah, pencetak, profesional dan asosiasi perdagangan, lembaga, seniman, penulis, kolektor benda kuno, penyedia software dan multimedia, semua ambil bagian dalam program dan iklim bisnis  di FBF.

Frankfurt Book Fair bukan hanya merupakan arena transaksi buku terbesar dan paling bergengsi di dunia namun juga memiliki nilai strategis sebagai diplomasi budaya untuk pemantapan citra satu Negara.
Program Guest of Honour (GoH) juga dikenal sebagai Country of Honour di mana industri penerbitan suatu negara diangkat dengan fokus utama negara tersebut. Program khusus seperti ceramah, eksebisi seni, panel forum, produksi teater, program radio dan TV dirancang untuk keperluan sebagai GoH. Area pameran khusus juga dibangun bagi negara yang menjadi GoH. 

Pada  Juni 2013 Pemerintah Indonesia diwakili oleh Sekretaris Jenderal, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan Presiden Ausstellung und Messe (AuM) menandatanganiMemorandum of Understanding (MoU) mengenai kesediaan Indonesia menjadi Guest of Honour 2015.

Sebagai Guest of Honour 2015, Indonesia memilliki kesempatan strategis untuk menunjukkan kepada dunia kebangkitan literasi bangsa melalui kekayaan budaya dalam segala implementasinya. Tidak hanya sastra dan budaya negara GoH menjadi pusat perhatian di pameran perdagangan terbesar di dunia untuk buku dan media, demikian juga dengan industri bukunya.

Mengenai hal ini, Guest of Honour membuat sebuah program dukungan terjemahan. Dari sudut pandang industri buku, program ini membantu meningkatkan perdagangan dalam hak dan lisensi dan mengembangkan kontak internasional mereka, bahkan setelah tahun sebagaiGuest of Honour telah berakhir. Industri ini juga mendapatkan keseluruhan manfaat dari perhatian ekstra yang diterimanya karena promosi dari penulis dan kehadiran penerbit di pameran buku terbesar di dunia.

Untuk pembaca dan masyarakat umum, kehadiran Indonesia sebagai Guest of Honourmemungkinkan mereka untuk mendapatkan pengalaman budaya dan literatur  sekaligus memunculkan rasa ingin tahu, sejarah bangsa, mendorong pertukaran budaya dan dialog serta hal-hal terkini dari Indonesia.

FBF dianggap sebagai pameran buku paling penting dalam hal transaksi dan perdagangan internasional terkait rights dan lisensi. Bagi Indonesia, event ini merupakan kesempatan besar untuk membuat industri dalam negeri, tak hanya industri penerbitan dan percetakan, tapi industri kreatif lainnya (semisal kerajinan dan barang seni, kuliner, multimedia), juga industri tradisional berbasis budaya (jamu, kain, kosmetik tradisional, dsbnya) lebih go international.

Persiapan FBF adalah pekerjaan "seabad-dua abad". FBF bukanlah pekerjaan magic yang mengandalkan mantra dan sim salabim semua tercipta sempurna dengan indahnya. FBF adalah pekerjaan bangsa yang membutuhkan keterlibatan penuh banyak pihak baik swasta dan pemerintah. Biaya, tenaga, pemikiran, saran, usul, pengawasan, bimbingan, dan ide-ide besar lainnya yang didukung oleh sarana dan prasarana yang lebih dari cukup untuk mengantarkan Indonesia menjadi Tamu Kehormatan pertama dari Asia Tenggara di ajang bergengsi tersebut.

Waktu kita tidak  banyak. Sungguh. Sanggupkah kita menyaingi kesuksesan Brazil, Iceland, New Zealand sebagai GoH? mampukah kita menyaingi mereka yang sudah "berabad-abad" mempersiapkannnya? bisakah kita dengan persiapan "sehari-dua hari" menggetarkan publik internasional? mungkin kita memang memerlukan mantra itu. Semoga ini tidak berakhir menjadi ratapan.

No comments:

Post a Comment